Wednesday, July 4, 2018

Ketika Iblis Memakai Sajadah Untuk Mengganggu Manusia

Siang menjelang Dzuhur. Salah satu Iblis ada di Masjid. Kebetulan hari itu Jum’at, dikala berkumpulnya orang. Iblis sudah ada dalam Masjid. Ia tampak begitu khusyuk. Orang mulai berdatangan. Iblis berubah menjadi menjadi ratusan bentuk dan masuk dari segala penjuru, lewat jendela, pintu, ventilasi, atau masuk lewat lubang pembuangan air.

Pada setiap orang, Iblis juga masuk lewat telinga, ke dalam syaraf mata, ke dalam urat nadi, kemudian menggerakkan denyut jantung setiap para jamaah yang hadir. Iblis juga melekat di setiap sajadah. “Hai, Blis!”, panggil Kiai, ketika gres masuk ke Masjid itu.

Iblis merasa terusik: “Kau kerjakan saja tugasmu, Kiai. Tidak perlu kamu larang-larang saya. Ini hak saya untuk menganggu setiap orang dalam Masjid ini!”, jawab Iblis ketus.

“Ini rumah Tuhan, Blis! Tempat yang suci, Kalau kamu mau ganggu, kamu sanggup diluar nanti!” Kiai mencoba mengusir.

“Kiai, hari ini, yakni hari uji coba sistem baru. Saya sedang menerapkan cara baru, untuk menjerat kaummu.”

“Dengan apa?”

“Dengan sajadah!”

“Apa yang sanggup kamu lakukan dengan sajadah, Blis?”

“Pertama, saya akan masuk ke setiap pemilik saham industri sajadah. Mereka akan saya jebak dengan mimpi untung besar. Sehingga, mereka akan tega memeras buruh untuk bekerja dengan upah di bawah UMR, demi laba besar!”

“Ah, itu kan memang cara usang yang sering kamu pakai. Tidak ada yang baru,Blis?”

“Bukan itu saja Kiai…”

“Lalu?”

“Saya juga akan masuk pada setiap desainer sajadah. Saya akan menumbuhkan gagasan, biar para desainer itu menciptakan sajadah yang lebar-lebar.”

“Untuk apa?”

“Supaya, saya lebih berpeluang untuk menanamkan rasa egois di setiap kaum yang kamu pimpin, Kiai! Selain itu, Saya akan lebih leluasa, masuk dalam barisan sholat. Dengan sajadah yang lebar maka barisan shaf akan renggang. Dan saya ada dalam kerenganggan itu. Di situ Saya sanggup ikut membentangkan sajadah.”

Dialog Iblis dan Kiai sesaat terputus. Dua orang datang, dan keduanya membentangkan sajadah. Keduanya berdampingan. Salah satunya, mempunyai sajadah yang lebar. Sementara, satu lagi, sajadahnya lebih kecil.

Orang yang punya sajadah lebar seenaknya saja membentangkan sajadahnya, tanpa melihat kanan-kirinya. Sementara, orang yang punya sajadah lebih kecil, tidak lezat hati jikalau harus mendesak jamaah lain yang sudah lebih dulu datang. Tanpa berpikir panjang, pemilik sajadah kecil membentangkan saja sajadahnya, sehingga sebagian sajadah yang lebar tertutupi sepertiganya. Keduanya masih melaksanakan sholat sunnah.

“Nah, lihat itu Kiai!”, Iblis memulai obrolan lagi.

“Yang mana?”

“Ada dua orang yang sedang sholat sunnah itu. Mereka punya sajadah yang berbeda ukuran. Lihat sekarang, saya akan masuk diantara mereka.”Iblis lenyap. Ia sudah masuk ke dalam barisan shaf.

Kiai hanya memperhatikan kedua orang yang sedang melaksanakan sholat sunah. Kiai akan melihat kebenaran rencana yang dikatakan Iblis sebelumnya. Pemilik sajadah lebar, rukuk. Kemudian sujud. Tetapi, sembari bangkit dari sujud, ia membuka sajadahya yang tertumpuk, kemudian meletakkan sajadahnya di atas sajadah yang kecil.

Hingga sajadah yang kecil kembali berada di bawahnya. Ia kemudian berdiri. Sementara, pemilik sajadah yang lebih kecil, melaksanakan hal serupa. Ia juga membuka sajadahnya, alasannya yakni sajadahnya ditumpuk oleh sajadah yang lebar. Itu berjalan hingga final sholat.

Bahkan, pada dikala sholat wajib juga, kejadian-kejadian itu beberapa kali terihat di beberapa masjid. Orang lebih menentukan menjadi di atas, ketimbang mendapatkan di bawah. Di atas sajadah, orang sudah berebut kekuasaan atas lainnya. Siapa yang mempunyai sajadah lebar, maka, ia akan meletakkan sajadahnya diatas sajadah yang kecil. Sajadah sudah dijadikan Iblis sebagai pembedaan kelas.

Pemilik sajadah lebar, diindentikan sebagai para pemilik kekayaan, yang setiap dikala harus lebih di atas dari pada yang lain. Dan pemilik sajadah kecil, yakni kelas bawah yang setiap dikala akan selalu menjadi sub-ordinat dari orang yang berkuasa.

Di atas sajadah, Iblis telah mengajari orang supaya selalu menguasai orang lain. “Astaghfirullahal adziiiim“ , ujar sang Kiai pelan.






( Sumber: ukhtiindonesia.com )

Artikel Terkait

Ketika Iblis Memakai Sajadah Untuk Mengganggu Manusia
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email